Sabtu, 07 Desember 2013

Bersyukurlah Menjadi Seorang Medioker




 Tulisan saya ini sebenarnya bukan bertujuan untuk membahas sepak bola. Hanya sedikit terinspirasi dari sana.

Dua tahun silam, saya mulai menyukai salah satu klub bola terkuat di Eropa, Barcelona. Semua bermula saat dua tahun yang silam pula, dua orang sahabat saya mengetuk pintu kamar saya untuk dapat menyaksikan Final Liga Spanyol lewat televisi saya. Saat itu saya tidak tahu kalau Barcelona adalah klub terkuat di Eropa. Yang saya tahu saat itu, Barcelona menang melawan satu klub yang memiliki seorang pemain ‘bengis’, sebut saja Pepe. Saya mulai menyukai Barcelona yang menang walau dikasari sedemikian rupa. Sekali lagi saya tidak tahu kalau ternyata dua tahun sebelumnya, Barcelona juga terus memenangi Liga Spanyol berturut-turut. Belum lagi mereka juga kerap menjuarai Liga Champion, sehingga sering disebut yang terkuat di Eropa. Saya sebut ini takdir karena mungkin kalau saat itu pertandingannya berbeda, saya akan menyukai klub lain.

Menjadi fans baru Barcelona di musim 2011-2012 nelangsa sekali ternyata. Terlepas dari banyaknya kelemahan klub yang baru saya ketahui saat menjadi fans  (klub bola juga bisa punya istilah ‘Nobody’s Perfect), di musim ini Barcelona ‘jatuh’. Saya yang tidak merasakan kejayaan mereka di tahun 2008-2009, namun merasakan pahitnya melepaskan piala Liga Spanyol pada rival abadi Real Madrid, padahal 3 tahun sebelumnya secara berturut-turut menjuarai piala tersebut. Tidak hanya itu, di musim yang sama Barcelona gagal mengangkat trophy liga champion setelah dikalahkan Chelsea, klub yang saat  itu hanya menjadi kuda hitam di ajang Final Liga Champion. Terakhir, di akhir musim Pep Guardiola, salah satu arsitek terbaik yang dimiliki Barcelona tak lagi memperpanjang kontraknya di Barcelona. (Kenapa Om Pep, kenapa ? Apa karena gw mulai jadi fans ? *drama*).  Saat itu rasanya jatuh dari tempat tertinggi, dan semakin sakit karena banyak sekali haters yang tertawa di atas penderitaan kita *makin drama*.

Namun memang kita seharusnya pernah merasakan jatuh dan ada di titik terendah. Di musim berikutnya, merebut kembali Trophy Liga Spanyol terasa begitu maniiisssss. Walau di Liga Champion harus menerima kekalahan dari Bayern Muenchen di babak semifinal. Ah tapi kan tahun lalu pun sudah kalah lawan Chelsea, kalah dari klub superior seperti Bayern Muenchen membuat kebal. Yang penting di musim itu masih dapat gelar. #Eh ;p

Itulah sebenarnya inti yang ingin saya sampaikan (intronya panjang ya :p).

Janganlah berkecil hati menjadi seorang medioker. Karena bila saat ini kamu menjadi medioker, akan sangat manis rasanya saat kamu berada di puncak.

Buat fans MU, jangan berkecil hati kalau musim ini tidak seindah musim lalu. Om Moyes mungkin masih adaptasi. Bersyukurlah jadi klub yang bisa menang lalu kalah lagi lalu menang lagi.

Untuk fans Liverpool, setelah beberapa tahun tidak menempati posisi atas di klasemen, bagaimana rasanya sekarang? Manis kan ? Beruntunglah pernah menjadi medioker.

Untuk fans Arsenal, setelah 8 tahun tanpa gelar dan peluang memboyong trophy di musim ini rasanya begitu besar, bagaimana rasanya? Semangat kah ? Harus dong, kalau meleset dan lepas lagi ya sudahlah. Toh selama 8 musim pun sudah tanpa gelar. Beruntunglah jadi medioker.

Untuk para mahasiswa yang IPK nya biasa biasa saja, tetap semangat. Saat kalian jadi lebih sukses dari teman yang cumlaude, hidup akan terasa lebih manis. Lalu bagaimana bila setelah sukses jatuh lagi? Pernah jadi medioker kan? Waktunya bangkit dan berjuang lagi berarti.

Untuk yang tidak terlahir dari keluarga yang berkecukupan, jangan berkecil hati. Bekerja keraslah untuk menjadi cukup. Kemapanan tanpa campur tangan orang tua pasti lebih manis rasanya. Apalagi kalau bisa memapankan orang tua. Bila jatuh miskin lagi? Bukankah dari awal sudah begitu? Maka sederhanalah saat menjadi kaya :D

Tempat kerja tidak sebergengsi teman yang lain? Tetaplah bersyukur dan jalani pekerjaan sebaik mungkin.

Ter akhir untuk yang pernah menjadi juara kelas, orang kaya, namun kini jatuh? Life must go on. Bangkit dan tetap jalani hidup dengan baik. Saat kembali ke zona nyaman, ingatlah masa nelangsa.

Tetaplah ‘merendah’ di tempat yang ‘tinggi’.

4 komentar:

  1. Balasan
    1. penting abis lu dun. thank you lah dah mampir. Ah tapi gw jg sering mampir tempat lu ko, baca cv anak ilkom :p

      Hapus
  2. aseek Tetaplah ‘merendah’ di tempat yang ‘tinggi’
    http://ridwanfansuri.com

    BalasHapus