Tulisan saya ini sebenarnya bukan bertujuan untuk membahas
sepak bola. Hanya sedikit terinspirasi dari sana.
Dua tahun silam, saya mulai menyukai salah satu klub bola
terkuat di Eropa, Barcelona. Semua bermula saat dua tahun yang silam pula, dua
orang sahabat saya mengetuk pintu kamar saya untuk dapat menyaksikan Final Liga
Spanyol lewat televisi saya. Saat itu saya tidak tahu kalau Barcelona adalah
klub terkuat di Eropa. Yang saya tahu saat itu, Barcelona menang melawan satu klub
yang memiliki seorang pemain ‘bengis’, sebut saja Pepe. Saya mulai menyukai
Barcelona yang menang walau dikasari sedemikian rupa. Sekali lagi saya tidak
tahu kalau ternyata dua tahun sebelumnya, Barcelona juga terus memenangi Liga
Spanyol berturut-turut. Belum lagi mereka juga kerap menjuarai Liga Champion,
sehingga sering disebut yang terkuat di Eropa. Saya sebut ini takdir karena
mungkin kalau saat itu pertandingannya berbeda, saya akan menyukai klub lain.
Menjadi fans baru Barcelona di musim 2011-2012 nelangsa sekali
ternyata. Terlepas dari banyaknya kelemahan klub yang baru saya ketahui saat
menjadi fans (klub bola juga bisa punya
istilah ‘Nobody’s Perfect), di musim ini Barcelona ‘jatuh’. Saya yang tidak
merasakan kejayaan mereka di tahun 2008-2009, namun merasakan pahitnya
melepaskan piala Liga Spanyol pada rival abadi Real Madrid, padahal 3 tahun
sebelumnya secara berturut-turut menjuarai piala tersebut. Tidak hanya itu, di
musim yang sama Barcelona gagal mengangkat trophy liga champion setelah
dikalahkan Chelsea, klub yang saat itu
hanya menjadi kuda hitam di ajang Final Liga Champion. Terakhir, di akhir musim
Pep Guardiola, salah satu arsitek terbaik yang dimiliki Barcelona tak lagi
memperpanjang kontraknya di Barcelona. (Kenapa Om Pep, kenapa ? Apa karena gw
mulai jadi fans ? *drama*). Saat itu
rasanya jatuh dari tempat tertinggi, dan semakin sakit karena banyak sekali
haters yang tertawa di atas penderitaan kita *makin drama*.
Namun memang kita seharusnya pernah merasakan jatuh dan ada
di titik terendah. Di musim berikutnya, merebut kembali Trophy Liga Spanyol
terasa begitu maniiisssss. Walau di Liga Champion harus menerima kekalahan dari
Bayern Muenchen di babak semifinal. Ah tapi kan tahun lalu pun sudah kalah
lawan Chelsea, kalah dari klub superior seperti Bayern Muenchen membuat kebal. Yang
penting di musim itu masih dapat gelar. #Eh ;p
Itulah sebenarnya inti yang ingin saya sampaikan (intronya
panjang ya :p).
Janganlah berkecil hati menjadi seorang medioker. Karena
bila saat ini kamu menjadi medioker, akan sangat manis rasanya saat kamu berada
di puncak.
Buat fans MU, jangan berkecil hati kalau musim ini tidak
seindah musim lalu. Om Moyes mungkin masih adaptasi. Bersyukurlah jadi klub
yang bisa menang lalu kalah lagi lalu menang lagi.
Untuk fans Liverpool, setelah beberapa tahun tidak menempati
posisi atas di klasemen, bagaimana rasanya sekarang? Manis kan ? Beruntunglah
pernah menjadi medioker.
Untuk fans Arsenal, setelah 8 tahun tanpa gelar dan peluang memboyong
trophy di musim ini rasanya begitu besar, bagaimana rasanya? Semangat kah ?
Harus dong, kalau meleset dan lepas lagi ya sudahlah. Toh selama 8 musim pun
sudah tanpa gelar. Beruntunglah jadi medioker.
Untuk para mahasiswa yang IPK nya biasa biasa saja, tetap
semangat. Saat kalian jadi lebih sukses dari teman yang cumlaude, hidup akan
terasa lebih manis. Lalu bagaimana bila setelah sukses jatuh lagi? Pernah jadi
medioker kan? Waktunya bangkit dan berjuang lagi berarti.
Untuk yang tidak terlahir dari keluarga yang berkecukupan, jangan
berkecil hati. Bekerja keraslah untuk menjadi cukup. Kemapanan tanpa campur
tangan orang tua pasti lebih manis rasanya. Apalagi kalau bisa memapankan orang
tua. Bila jatuh miskin lagi? Bukankah dari awal sudah begitu? Maka sederhanalah
saat menjadi kaya :D
Tempat kerja tidak sebergengsi teman yang lain? Tetaplah
bersyukur dan jalani pekerjaan sebaik mungkin.
Ter akhir untuk yang pernah menjadi juara kelas, orang kaya,
namun kini jatuh? Life must go on. Bangkit dan tetap jalani hidup dengan baik.
Saat kembali ke zona nyaman, ingatlah masa nelangsa.
Tetaplah ‘merendah’ di tempat yang ‘tinggi’.
tes dr adun ganteng.
BalasHapuspenting abis lu dun. thank you lah dah mampir. Ah tapi gw jg sering mampir tempat lu ko, baca cv anak ilkom :p
Hapusaseek Tetaplah ‘merendah’ di tempat yang ‘tinggi’
BalasHapushttp://ridwanfansuri.com
*angkat angkat alis*
Hapus